Obituari Iyut Fitra: Dari Derit Sepeda Reseng hingga Jejak Motor Leprechaun

×

Obituari Iyut Fitra: Dari Derit Sepeda Reseng hingga Jejak Motor Leprechaun

Bagikan berita
Obituari Iyut Fitra: Dari Derit Sepeda Reseng hingga Jejak Motor Leprechaun
Obituari Iyut Fitra: Dari Derit Sepeda Reseng hingga Jejak Motor Leprechaun

Oleh: Feni Efendi

Sebuah kamar di bawah Rumah Gadang, detak waktu sering kali kalah oleh suara tuts keyboard yang dipencet satu-satu. Bagi banyak orang, nama yang tertera di layar monitor itu adalah Iyut Fitra—penyair yang karya-karyanya menghuni rak-rak buku perpustakaan dan kolom sastra koran nasional. Namun bagi saya, ia adalah sebuah kesunyian yang harus dijaga. Jika suara ketikan itu masih terdengar dari balik pintu, saya akan memilih menepi ke taman belakang, membiarkan sang penyair menyelesaikan pergulatannya dengan kata-kata sebelum saya berani mengetuk pintu kamarnya.

Pertemuan saya terhadap sosok ini seperti sebuah perjalanan "salah jurusan" yang panjang. Di masa kecil, saya hanyalah anak petani di Tiakar yang lebih akrab dengan arit dan aroma rumput basah daripada kertas dan tinta. Sastra bagi saya saat itu hanyalah kemewahan yang terselip di buku pelajaran sekolah—potongan kecil dari roman yang ditulis Abdul Muis, Marah Rusli, atau puisi Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisyahbana yang saya baca dengan penuh harap di bangku kelas.

Tahun-tahun berikutnya adalah anomali. Sebagai siswa SMK Taman Siswa jurusan Elektronika, saya justru lebih fasih membaca narasi di taman-taman bacaan yang berlokasi di Petak Sago Payakumbuh ketimbang diagram sirkuit. Rasanya saya tersesat jalan.

Pertemuan saya dengan nama Iyut Fitra ini bermula dari rumah-rumah tetangga di kampung. Di hari Minggu, saat remaja lain mungkin sibuk bermain, saya justru bertandang dari satu teras ke teras lain atau dari kedai satu ke kedai yang lain. Bukan untuk bertamu, melainkan untuk menumpang baca. Saya ingat betul "peta literasi" saya saat itu: saya akan ke rumah A jika ingin membaca koran Padang Ekspres, ke rumah B untuk membaca koran Kompas, dan ke rumah C demi membaca Media Indonesia, atau ke rumah yang lain untuk membaca majalah-majalah bekas seperti Tempo, Nova, Femina, Trubus, dan lain-lain.

Di teras-teras rumah itulah, saya menemukan dunia yang luas. Saya membaca kolom puisi, cerpen, hingga esai pertunjukan teater dan tari. Kadang tetangga yang baik hati mengizinkan saya merobek halaman sastra itu untuk dibawa pulang, dijadikan kliping, dan dipelajari berulang-ulang di rumah. Di antara guntingan koran itulah, nama Iyut Fitra mulai muncul secara magis. Di bawah puisi-puisi lirisnya, tertera keterangan tempat yang membuat saya terpaku: Payakumbuh. Ada rasa bangga sekaligus tak percaya bahwa seorang penyair yang karyanya bersanding dengan tokoh nasional ternyata tinggal di kota yang sama dengan tempat saya menyabit rumput.

Merasa tidak ada kepastian masa depan di Payakumbuh, setelah tamat sekolah saya menguatkan niat untuk merantau ke Pekanbaru dengan bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu, lagu Ada Apa Denganmu milik Peterpan sedang membahana di mana-mana di tahun 2005. Saya yang sebagai seorang buruh bangunan yang tinggal di Jalan Pangeran Hidayat, setiap hari Minggu atau saat pekerjaan sedang libur, saya akan berjalan kaki cukup jauh menuju Gedung Perpustakaan Umum Daerah Riau yang saat itu masih berupa bangunan kayu di kawasan kantor Gubernur. Di gedung kayu itulah, di tengah sunyi dan aroma buku tua, saya menemukan lagi nama Iyut Fitra.

Di perpustakaan itu pula saya mulai membedah puisi-puisi Iyut Fitra. Semakin dalam saya membacanya, semakin dekat pula rasanya saya dengannya. Hanya beberapa bulan bertahan sebagai buruh bangunan di Pekanbaru, saya memutuskan kembali ke Payakumbuh dan bertekad untuk mencari rumahnya jika sudah tiba di kampung halaman.

Setelah beberapa hari di Payakumbuh saya mencoba mencari alamat Iyut Fitra. Siang itu begitu terik. Tanpa alamat pasti, saya menyusuri trotoar Jalan Soekarno-Hatta dengan nyali yang tersisa sedikit. Di dekat gerbang Ma’had Islami, saya berpapasan dengan pria berambut ikal sebahu. Hati saya berdesir, membisikkan firasat bahwa pria berbaju putih itu adalah dia. Namun, saya terlalu kerdil untuk menyapa. Saya terus berjalan hingga tiba ke sebuah kantor penerbit di simpang SMEA negeri, tempat sebuah petunjuk akhirnya terucap: "Cari Komunitas Seni Intro di Padang Tangah."

Di rumah gadang itu, saya tidak langsung bertemu dengannya. Saya justru menerima sebuah "warning" pertama dari salah seorang penghuni komunitas tersebut: sebuah peringatan pahit bahwa jalan penulis adalah jalan sunyi yang sering kali jauh dari kemapanan. Namun, bagi anak muda yang baru pulang dari perantauan, peringatan itu justru terdengar seperti undangan.

Minggu sore beberapa hari setelahnya, pertemuan itu benar-benar terjadi. Saya menyerahkan segepok puisi karya sendiri. Ia bertanya tentang puisi siapa saja yang saya dalami di saat itu. Maka saya jawab nama Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Cecep Syamsul Hari yang telah menjadi jembatan percakapan pertama kami. Sejak saat itu, ritme hidup saya berubah: siang hari saya menyabit rumput untuk dijual, dan setelah Isya, saya menggenjot sepeda "reseng" menuju Intro.

Sepeda itu seperti alarm bagi Bang Iyut. Remnya tidak pakem, sehingga setiap kali sampai, saya harus menghantamkan rodanya ke gundukan tanah di bawah rumah gadang. Bunyi berisik itu merupakan pertanda bahwa si penyabit rumput telah datang. Di dalam kamarnya, malam-malam kami habiskan dengan mendengarkan lagu di MP3 atau Winamp di komputer, atau mengetik draft Surat-Surat Silvia yang sebelumnya ditulis pena secara bergantian. Terkadang kami menonton film DVD rental dan suatu kali sebuah film Irlandia yang kurang menarik akhirnya menginspirasi sebuah puisi yang berjudul Leprechaun. Kemudian hari puisi itu memenangi lomba cipta puisi nasional dan sebagian hadiahnya dibelikan sepeda motor.

Ada sebuah rahasia yang kami simpan di atas motor—yang juga kami panggil motor "Leprechaun"—dalam perjalanan ke Koto Tinggi tahun 2008 (mungkin 2007). Di tengah deru angin, ia mengatakan sebuah rencana: "Bagaimana jika Surat-Surat Silvia kita jadikan novel?" Sebuah janji yang hingga kini masih mendekam tenang dalam naskah yang belum sempat mewujud utuh.

Ketika Bang Iyut menikah, hidup kemudian memberi saya jeda sepuluh tahun. Saya menepi, sibuk mengadu nasib sebagai blogger dan kembali menyabit rumput jika dompet digital mengering. Selama sepuluh tahun itu saya nyaris tidak bersentuhan dengan sastra. Namun, tahun 2017, saya kembali bertemu dengannya setelah melakukan observasi tentang PDRI. Pada tahun 2019, saya menemaninya menyusuri lekuk Batang Sinama untuk menyelesaikan buku puisi Sinama. Mulai dari hulu Sinama di Gunung Omeh hingga bermuara di Tanjung Ampalu Sijunjung. Perjalanan menyusuri sungai itu bukan lagi sekadar riset untuk buku puisinya, melainkan sebuah rekonsiliasi bagi saya dengan dunia yang pernah saya tinggalkan.

Kini, 27 April 2026, arus Batang Sinama terus mengalir, namun sang penyair telah memutuskan untuk berhenti di muara terakhirnya. Bagi saya, kepergian Bang Iyut adalah hilangnya telinga paling sabar yang pernah mendengarkan bunyi berisik sepeda reseng saya di keheningan malam.

Selamat jalan, Bang Iyut. Terima kasih telah mengajarkan saya bahwa dari padang rumput dan lumpur sawah, sebuah kata-kata bisa lahir dan terbang jauh melampaui batas kota kecil ini.


Feni Efendi, seorang penulis, peneliti, dan pengamat literasi yang berasal dari Payakumbuh

Editor : Redaksi-1
Bagikan

Berita Terkait
Terkini