Jakarta, - Tidak ada kata putus asa dalam penanggulangan karhutla! Pemerintah terus berupaya mencari solusi tepat untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Terkini, metode penyemaian dry ice menjadi salah satu terobosan yang sedang diuji coba untuk mengurangi dampak kabut asap yang pekat.
Teknik ini diadopsi dari pengalaman di Taiwan, bekerja dengan memanfaatkan karbon dioksida padat bersuhu ekstrem dingin mencapai -78,5°C guna mengubah kondisi atmosfer di wilayah terdampak.
Saat terjadi karhutla, asap kerap terperangkap di dekat permukaan tanah akibat lapisan inversi: lapisan udara hangat yang menutup di atas udara lebih dingin, sehingga atmosfer menjadi stabil dan asap sulit naik maupun menyebar.
Di sinilah fungsi dry ice: penyemaiannya melabihkan struktur suhu udara, memecah lapisan inversi, sehingga asap dapat naik dan menyebar secara alami. Konsentrasi polutan pun menurun dan jarak pandang membaik.
Hasil awal uji coba pada Kamis (15/10) menunjukkan perkembangan menggembirakan.Melalui dua sorti penyemaian, data Metar WIPP Palembang mencatat peningkatan visibilitas dari semula sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter.
Uji coba Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan dry ice ini direncanakan berlangsung hingga 18 Oktober 2026.
Setelah itu, tim akan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan penerapan metode ini di wilayah lain yang masih terdampak asap.
Inovasi ini membuktikan bahwa upaya penanganan karhutla terus berjalan, baik melalui pemadaman langsung di lapangan maupun pengembangan teknologi pendukung.
Editor : Editor