Jakarta, - Harga emas terpantau melemah sepanjang pekan ini, di tengah sikap pasar yang mempertimbangkan prospek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) lebih lanjut tahun ini.
Kekhawatiran ini muncul menyusul data inflasi AS yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan.
Merujuk data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (17/10/2026) berada di posisi US$4.165 per troy ons, turun 0,13% dibandingkan hari sebelumnya. Secara keseluruhan, emas terkoreksi 0,69% sepanjang pekan ini.
"Kami sangat berada dalam rentang dan condong ke batas bawah dukungan, alasan utamanya adalah masih banyak ambiguitas langkah The Fed," ujar Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities, dikutip Reuters.
Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) Kevin Warsh menyuarakan optimisme terhadap kekuatan ekonomi AS, namun tidak memberikan arah kebijakan suku bunga secara spesifik.
Sementara itu, data terbaru menunjukkan inflasi produsen AS meningkat paling tinggi dalam empat setengah tahun, menyusul laporan inflasi konsumen yang juga naik pada September 2026.Presiden The Fed Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menilai data tersebut "mengecewakan", sedangkan Presiden The Fed Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengingatkan kenaikan suku bunga lebih agresif mungkin diperlukan jika ekspektasi inflasi publik menurun secara signifikan.
Pasar memprediksi The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga stabil bulan ini, namun peluang kenaikan pada Desember 2026 mencapai 90% berdasarkan perangkat CME FedWatch.
Emas umumnya dianggap lindung nilai inflasi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberi imbal hasil bunga.
"Sisa tahun ini, harga emas kemungkinan sedikit turun karena The Fed terus menaikkan suku bunga dan kekhawatiran terkait sektor teknologi bersifat sementara," ungkap Hamad Hussain, ekonom di Capital Economics. (***)
Editor : Editor