Padang — Gelombang pengungsian di Kota Padang terus membengkak pascabencana banjir dan banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah kawasan pada akhir November 2025. Hingga Senin (1/12/2025), tercatat 4.446 warga masih bertahan di lokasi-lokasi pengungsian, menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, mengungkapkan bahwa ribuan warga kini bergantung pada fasilitas penampungan sementara, dengan 810 orang di antaranya masuk kategori rentan—meliputi bayi, lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas.
“Data sementara, ada sekitar 4.446 jiwa warga terdampak bencana banjir yang masih dalam pengungsian,” ujarnya, Selasa (2/12/2025). Ia menegaskan bahwa kondisi di lapangan masih sangat dinamis.
Pauh Tertinggi, Pengungsian Membentuk “Kota Baru” Sementara
Dari seluruh wilayah terdampak, Kecamatan Pauh mencatat jumlah pengungsi terbanyak mencapai 1.757 jiwa. Diikuti Kecamatan Kuranji (984 jiwa), Koto Tangah (844 jiwa), Nanggalo (835 jiwa), serta Lubuk Kilangan (36 jiwa).
Di beberapa titik pengungsian, tenda-tenda darurat, dapur umum, dan pos kesehatan terlihat padat. Situasinya hampir menyerupai “kota kecil” yang tiba-tiba muncul akibat bencana.Pendidikan Lumpuh: 32 Sekolah Rusak
Selain memicu gelombang pengungsian besar, bencana ini juga menghantam dunia pendidikan. Sebanyak 32 sekolah di berbagai kecamatan dilaporkan rusak, baik akibat banjir maupun terpaan angin kencang saat kejadian.
Kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran baru terkait kelanjutan proses belajar mengajar, terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah terdampak paling parah.
Pendataan Masih Berjalan, Angka Bisa Bertambah
Editor : Redaksi-1