Meningkatnya Minat Baca, Tapi Apakah Kita Benar-Benar Memahami?

Foto Pariyadi Saputra
×

Meningkatnya Minat Baca, Tapi Apakah Kita Benar-Benar Memahami?

Bagikan opini

Idkabar - Provinsi Sumatera Barat boleh berbangga. Berdasarkan data Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), capaian literasi di daerah ini terus mengalami peningkatan. Tahun 2023, nilai IPLM Sumbar berada di angka 77,31. Setahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 82,47. Dengan capaian tersebut, Sumbar kini berada di peringkat ke-4 nasional.

Tak berhenti di situ, indeks TGM (Tingkat Kegemaran Membaca) Sumbar juga mencatatkan tren positif. Dari 68,46 pada 2023, naik menjadi 73,30 pada 2024, menempatkan Sumbar sebagai provinsi dengan TGM tertinggi kedelapan secara nasional. Bahkan, berdasarkan data Perpustakaan Nasional, Sumbar menjadi provinsi peringkat pertama nasional dengan 19,3 persen penduduknya rajin berkunjung ke perpustakaan.

Namun, di balik deretan angka membanggakan itu, ada pertanyaan besar yang perlu kita renungkan: apakah meningkatnya minat baca berarti meningkat pula pemahaman?

Membaca Bukan Sekadar Melihat Huruf

Banyak orang hari ini membaca, tapi tidak benar-benar memahami. Ambil contoh sederhana: konsumsi berita online. Tak sedikit orang hanya membaca judul, lalu langsung menyimpulkan isi berita bahkan menyebarkannya tanpa membuka isi tulisan hingga akhir. Padahal, judul sering kali disusun dengan framing tertentu untuk menarik perhatian, bukan untuk menjelaskan keseluruhan isi.

Inilah bentuk literasi semu. Kita merasa “membaca”, padahal hanya sekadar melewati permukaan informasi. Akibatnya, banyak terjadi kesalahpahaman, salah tafsir, hingga menyuburkan disinformasi di ruang publik.

Koran Mati, Literasi Tak Boleh Ikut Mati

Industri koran yang dulu menjadi jantung informasi perlahan mati suri. Media digital menggantikan peran kertas, tapi sayangnya, tidak semua pembaca digital memiliki kedalaman membaca seperti pembaca cetak dulu. Scroll cepat dan membaca sekilas menjadi kebiasaan baru yang merusak esensi literasi.

Sementara itu, data dari Kemendikbudristek tahun 2024 menunjukkan bahwa minat baca siswa Indonesia turun 18% dibandingkan tahun 2021. Kemampuan menulis narasi panjang pun melemah, terutama di jenjang SD dan SMP. Ini sinyal bahaya: generasi muda kita mulai kehilangan kedalaman berpikir.

Saat Literasi Harus Naik Kelas

Bagikan

Opini lainnya
Terkini