“Warga bahkan bersedia membayar ratusan ribu rupiah untuk satu tandon air 1.200 liter,” ungkap Albert. Fakta ini menunjukkan bagaimana krisis air bersih Sumatera Barat memberi dampak ekonomi tak terduga bagi masyarakat korban bencana.
Untuk merespons kondisi tersebut, distribusi air bersih dilakukan secara intensif melalui Posko Darurat Banjir di Ulak Karang. Air didistribusikan menggunakan mobil pickup atau truk tangki, menyesuaikan kebutuhan warga.
Menariknya, pola distribusi ini dibuat fleksibel. Setiap permintaan yang masuk dicatat, lalu air dikirim ke lokasi terdampak tanpa memandang jarak. Langkah ini dinilai efektif dalam meredam tekanan akibat krisis air bersih Sumatera Barat.
Selain air bersih, PDI Perjuangan Sumatera Barat juga mendirikan dapur umum yang beroperasi selama beberapa hari. Sekitar 1.500 bungkus nasi hangat dibagikan setiap hari kepada warga terdampak di berbagai wilayah.
Tak hanya itu, bantuan sembako, layanan kesehatan gratis, hingga pengerahan alat berat juga dilakukan untuk mempercepat pembersihan lumpur. Relawan medis pun disiagakan untuk menangani penyakit pascabanjir seperti gatal-gatal, demam, hingga gangguan pernapasan yang sering muncul di tengah krisis air bersih Sumatera Barat.Ke depan, tim medis dijadwalkan bergerak ke sejumlah daerah lain yang juga terdampak banjir dan longsor. Dengan kolaborasi berbagai pihak, upaya pemulihan diharapkan terus berjalan meski tantangan masih besar.
Krisis air bersih Sumatera Barat memang menjadi bencana yang tak selalu kasat mata. Namun dampaknya nyata, terasa langsung di dapur warga, di layanan kesehatan, dan di proses pemulihan pascabencana. (***)
Editor : Redaksi-1