Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman, Muslim, menegaskan sekolah harus siap menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja.
Kesiapsiagaan dibagi menjadi tiga tahap: prabencana, saat bencana, dan pascabencana.
Pada tahap prabencana, sekolah mengidentifikasi ancaman, menyusun jalur evakuasi, titik kumpul aman, serta menyiapkan Tas Siaga Bencana berisi dokumen, perlengkapan P3K, air, makanan, dan perlengkapan darurat.
Simulasi evakuasi berkala juga menjadi bagian penting agar tidak terjadi kepanikan saat kondisi nyata.
Program SPAB mendorong setiap sekolah memperkuat tiga pilar utama: fasilitas aman dengan identifikasi zona berbahaya dan jalur evakuasi yang jelas; manajemen bencana melalui penyusunan SOP kedaruratan serta pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah; dan edukasi berkelanjutan yang diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran.“Kesiapsiagaan bukanlah bentuk rasa takut, melainkan bukti nyata kepedulian dan investasi keselamatan bagi generasi mendatang,” tegas Muslim.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada tindak lanjut di masing-masing satuan pendidikan, agar seluruh warga sekolah benar-benar siap melindungi diri ketika bencana terjadi. (***)
Editor : Editor