“Cabai merah bertahan relatif tinggi. Tapi ini terjadi secara nasional, tak hanya di Sumbar,” jelasnya.
Ia menyoroti minimnya produksi cabai secara nasional sebagai akar masalah. “Seharusnya ini jadi perhatian untuk kabupaten/kota untuk memperbanyak dan memperluas tanam cabai, serta menanam saat masuk panen agar produksi cabai merah ada terus,” harapnya.
Menjawab tantangan pasokan cabai, Kepala Dinas Pangan Sumbar, Iqbal Ramadi Payana, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya melalui kerja sama antar daerah. Sayangnya, penurunan produksi secara nasional turut membatasi pasokan dari luar daerah.
“Beberapa hari lalu kami gelar operasi cabai merah dengan mendatangkan pasokan dari Magelang, Provinsi Jawa Tengah,” kata Iqbal.
“Seharusnya kami minta 2 ton, namun ketersediaan hanya 700 kilogram. Ke depan kami akan memperluas kerjasama dengan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk menjaga stabilitas harga menjelang akhir tahun, Iqbal memastikan GPM akan terus digencarkan. Sejak Januari hingga September 2025, GPM melalui mobil keliling Toko Tani Indonesia Center (TTIC) telah melaksanakan 720 kali kegiatan.Senada dengan itu, Kepala Perwakilan Bulog Divre Sumbar, R. Darma Wijaya, menegaskan kesiapan stok Bulog. “Persediaan Bulog cukup siap untuk terus menyokong operasi pasar murah seperti beras, gula pasir, minyak goreng dan lainnya. Kita akan terus berkoordinasi dengan Pemprov, BI, Dinas Pangan, dan instansi terkait lainnya,” tutupnya.
(*)
Editor : Redaksi-1