PADANG, - Inflasi Sumatera Barat pada Maret 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), inflasi tercatat hanya 0,04 persen secara bulanan (month to month/mtm), jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,41 persen.
Capaian ini langsung menarik perhatian karena mencerminkan stabilitas harga pangan dan keberhasilan pengendalian inflasi di daerah selama momentum Ramadan dan Idulfitri 2026.
Secara spasial, pergerakan inflasi di berbagai kabupaten dan kota di Sumbar terlihat bervariasi. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,44 persen (mtm). Sementara itu, Kota Bukittinggi menyusul dengan inflasi 0,16 persen.
Sebaliknya, Kota Padang dan Kabupaten Pasaman Barat justru mengalami deflasi. Kota Padang mencatat penurunan harga sebesar -0,02 persen, sedangkan Pasaman Barat sebesar -0,05 persen.
Penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya harga emas perhiasan serta turunnya harga komoditas hortikultura. Selain itu, pasokan barang yang mulai normal, baik dari dalam daerah maupun antarwilayah, ikut menekan laju inflasi.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumbar, Abdul Majid Ikram, menegaskan bahwa capaian ini tidak terlepas dari strategi pengendalian inflasi yang dilakukan secara konsisten.Menurutnya, berbagai program seperti inspeksi harga pasar, operasi pasar, dan Gerakan Pangan Murah (GPM) terbukti efektif menjaga stabilitas harga.
“Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berhasil menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, serta memperlancar distribusi pangan strategis,” ujar Majid, Jumat (3/4/2026).
Selain itu, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan instansi terkait turut memperkuat efektivitas kebijakan pengendalian inflasi.
Ke depan, stabilitas harga ini diharapkan terus terjaga. Dengan demikian, daya beli masyarakat tetap kuat dan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat dapat berlangsung lebih optimal. ***
Editor : Redaksi-1